Kondisi sungai Avur Budug Kesambi di Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Jombang. (istimewa)
Kondisi sungai Avur Budug Kesambi di Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Jombang. (istimewa)

Balai Gakkum KLHK wilayah Jawa Bali Nusa tenggara (Jabalnusra) didesak untuk menjatuhkan sanksi hukuman pidana terhadap dua perusahaan yang diindikasikan melakukan pencemaran di Sungai Avur Budug Kesambi Jombang. Desakan datang dari komunitas pelestari lingkungan di kota santri.

Dua perusahaan yang telah diindikasikan melakukan pencemaran itu adalah pabrik kertas PT MAG dan pabrik plastik UD MPS di Desa/Kecamatan Kesamben Jombang. Dari hasil gelar perkara terkait hasil verifikasi lapangan tim Gakkum KLHK, PT MAG akan direkomendasikan untuk diberi sanksi administrasi. Sedangkan UD MPS akan terancam sanksi hukuman pidana karena sebelumnya sudah pernah disanksi administrasi oleh Pemkab Jombang.

Dua sanksi berbeda yang akan dijatuhkan oleh Gakkum KLHK ini dinilai tidak adil oleh komunitas pelestari lingkungan, Santri Jogo Kali. Komunitas yang konsen melestarikan kebersihan sungai di Jombang ini, mendesak Balai Gakkum KLHK untuk menindak pidana seluruh perusahaan yang terbukti buang limbah di sehingga mengakibatkan pencemaran.

"Hukum harus ditegakkan tidak pandang bulu. Pelaku harus ditindak tegas, seret ke pengadilan. Tutup usahanya karena pengusaha seperti itu adalah penjahat lingkungan yang sangat jahat, jangan ada toleransi bagi penjahat yang merusak alam," tegas Ketua Santri Jogo Kali, Fatkhurohman saat dihubungi wartawan, Selasa (17/12).

Bukti pembuangan limbah secara sengaja oleh PT MAG terkuak setelah tim Gakkum bersama DLH Jombang menemukan dua saluran pipa tersembunyi yang ditanam di lahan sisi utara pabrik. Pipa tersembunyi itu untuk mengalirkan limbah cair ke Sungai Avur Budug Kesambi, tanpa melalui proses di Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) terlebih dahulu.

Pipa yang ditemukan tersebut masing-masing berukuran 4 dim, yang telah ditanam sejak 5 tahun lalu. Sayangnya, dari temuan-temuan itu pihak Gakkum KLHK hanya memberi sanksi berupa hukuman administrasi.

Santri Jogo Kali menilai, sanksi yang akan diberikan oleh Balai Gakkum KLHK ini sangat ringan bagi penjahat lingkungan. Dikatakan Fatkhurohman, pihak perusahaan yang dengan sengaja terbukti membuang limbah ke lingkungan bisa diseret ke hukum pidana.

Ia mengacu pada UU RI No. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pada pasal 98 dan 99 menerangkan sanksi pidan bisa dijatuhkan ke setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu air dan baku mutu kerusakan lingkungan hidup, tanpa melalui sanksi administrasi. 

Hukuman pada pasal tersebut yakni kurungan penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 10 tahun, dan denda Rp 3-10 miliar.

"Kalau dibaca, dilihat dan didengar berita-berita di banyak media, yaitu pembuang limbahnya itu membuangnya secara sembunyi sembunyi lewat pipa yang dirahasiakan, maka  tidak hanya denda administrasi. Kalau UU itu betul-betul diimplementasikan, sanksi pidana seharusnya bisa dilakukan," kata Fatkhurohman.

Sementara, Kepala Balai Gakkum KLHK wilayah Jawa Bali Nusa tenggara, Muhammad Nur mengatakan, pihaknya lebih memilih menggunakan pasal 100 ayat (2) di UU RI No. 32 Tahun 2009 dengan melakukan sanksi administrasi terlebih dahulu untuk menuju ke sanksi pidana.

Menurutnya, sanksi pidana baru bisa dilakukan setelah sanksi administrasi telah dilakukan. Kalau langsung menerapkan pasal 98 dan 99, dari pengelasannya, pasal tersebut rawan kalah di pengadilan.

"Memang seperti itu aturannya. Sudah banyak kasus yang digiring ke pidana, kita kalah di pengadilan. Karena langsung ke pidana tanpa hukum administrasi," pungkasnya.

Pencemaran limbah ini terjadi di sungai Avur Budug Kesambi di Kecamatan Kesamben, Jombang. Kondisi limbah terlihat jelas di pintu air di Dusun Gongseng, Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben. Di lokasi tersebut, kondisi air terlihat menghitam dan berbuih serta mengeluarkan aroma tidak sedap.

Limbah yang mencemari sungai ini mengandung zat klorin dan belerang. Akibatnya, sejumlah ikan di sungai mati dan tanaman sawah mati lantaran diairi dengan air sungai tersebut.(*)