Kondisi sampah yang berserakan di sepanjang jalur Jalibar (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Kondisi sampah yang berserakan di sepanjang jalur Jalibar (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Jalibar (Jalur Lingkar Barat) yang dulu bukanlah yang sekarang. Akses jalan yang dulunya nyaman ketika dilalui, saat ini pemandangannya menjadi kurang sedap dipandang lantaran banyak sampah berserakan, Minggu (29/9/2019).

Kondisi sampah yang berserakan tersebut, sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Hal ini menyusul adanya salah satu postingan di grub media sosial (Medsos), yang menunjukkan kondisi jalan di Jalibar yang terlihat tidak karuan lantaran sampah berserakan hingga ke tengah jalan.

 

 

”Mohon diloloskan min. Tema kegiatan Kirab Budaya sudah bagus, pelaksanaan acara sudah bagus. Tapi kesadaran warga akan kebersihan masih "NOL" dan belum ada perubahan perbaikan kesana. Padahal didekat JALIBAR ada TPA Wisata Edukasi  Talangagung. Ayo kita jaga bersama kebersihan lingkungan, minimal bawa kembali sampahmu bila tidak menemukan tempat sampah didekatmu. Posisi JALIBAR, 29 September 2019 jam 06.39 WIB NB : berkomentarlah dengan santun,” tulis akun Tiwir Nor Hidayat, saat memposting di salah satu grub facebook yang memiliki anggota lebih dari 657 ribu tersebut.

Hingga berita ini ditulis, postingan yang diunggah sekitar 9 jam lalu itu langsung menuai tanggapan oleh lebih dari 600 penghuni grub. Terpantau sudah ada 426 komentar yang diberikan oleh warganet. Bahkan postingan tersebut juga sempat dibagikan sebanyak 27 kali.

Berdasarkan penelusuran MalangTIMES.com, respons dari warganet juga sangat bervariasi. Ada yang mengelukan minimnya peran dari pemerintah lantaran tidak segera dibersihkan, ada pula yang menyalahkan peserta, panitia, hingga penonton kirab budaya yang diselenggarakan kemarin, Sabtu (28/9/2019) tersebut. ”Dinas kebersihannya mana,” tulis akun bernama Fitriono saat memberikan tanggapannya di kolom komentar.

Selain mempertanyakan peran pemerintah kenapa tidak segera dibersihkan. Juga ada salah seorang penghuni grub yang terkesan menyalahkan panitia karena dinilai tidak memberikan fasilitas tempat sampah yang memadai. ”Memang kemarin kurang tersedia tong tong sampah sepanjang jalibar, evaluasi mungkin klo diadakan disitu lagi mohon diperbanyak tempat sampah, ato tiap kontingen ada bagian penyapu sampah kayak dibeberapa tempat, trims salam bersih indonesia,” tulis Mateus Subowo.

Di sisi lain, juga ada warganet yang menyayangkan perbuatan peserta dan penonton kirab yang tidak membuang sampahnya di tempat sampah. ”misallnya panitianya gak nyedian tempat sampahlah apakah kita harus membuang sampah sembarangan? jgn salahkan panitia ini memang kurangnya kesadaran masyarakat sendiri,” tulis Madisra.

Berangkat dari fenomena viral di jagat maya inilah, MalangTIMES.com kemudian mencoba untuk melakukan pengamatan di lokasi Jalibar, Minggu (29/9/2019) sore. Mulai dari akses jalan masuk, jika dari arah Kota Malang. Terdapat papan pemberitahuan jika jalan ditutup selama penyelenggaraan kirab budaya berlangsung. Hal ini tentunya tidak sesuai dan tak enak dipandang mata. Sebab selain nampak berserakan, tempat papan pemberitahuan yang terlihat rusak dan sudah roboh itu terpajang tepat di bawah tugu penghargaan Adipura.

Dari pantauan wartawan di sepanjang akses jalan Jalibar, juga terlihat sampah yang masih nampak sangat berserakan di pinggir jalan, hingga berterbangan ke tengah jalan.

Tidak hanya itu saja, area ladang dan persawahan, hingga lapak jualan para pedagang yang ada di Jalibar juga nampak dipenuhi sampah berserakan. Selain itu, cat pilox yang disemprot ke aspal jalan juga menambah kondisi kumuh di jalur yang dapat menghubungkan para pengguna jalan dari Malang menuju Blitar tersebut.

Setelah hampir 1 jam lebih wartawan melakukan pengamatan. Tidak ada seorang pun petugas kebersihan dari Pemerintah Kabupaten Malang, yang nampak membersihkan sampah sisa kirab budaya tersebut. Adanya hanya para pengguna jalan yang berlalu-lalang, serta beberapa warga yang memungguti sampah untuk dibawa pulang dan dijual. ”Ini sampah kan, saya bawa pulang tidak apa kan?. Saya butuh terpal (sampah sisa kirab budaya) ini untuk saya gunakan menutup kayu,” terang salah satu pengguna jalan yang bernama Adi ini, saat ditemui MalangTIMES.com.